news

Memperkuat Ketahanan Ekonomi Keluarga melalui Literasi Keuangan Berbasis Perempuan

22 Dec 2025

Di banyak keluarga petani di Subang dan Garut, mengelola keuangan sehari-hari bukanlah hal yang mudah. Penghasilan datang tidak menentu—tergantung musim panen, kerja harian, atau usaha kecil—sementara kebutuhan rumah tangga terus berjalan tanpa jeda. Dalam situasi seperti ini, para ibu sering kali menjadi pengelola keuangan keluarga, namun keputusan yang diambil lebih bersifat bertahan hidup daripada merencanakan masa depan. 

Program PERMATA (Pelatihan Rumah Tangga Cermat dan Taat Anggaran) hadir untuk menjawab tantangan tersebut. Program yang diinisiasi oleh Edufarmers International Foundation dengan dukungan Visa ini dirancang khusus untuk mendampingi perempuan dari keluarga petani—yang kami sebut sebagai Ibu Permata—agar lebih percaya diri dan terampil dalam mengelola keuangan rumah tangga. Melalui alat-alat sederhana dan praktis, para peserta diajak memahami ke mana uang mereka digunakan, bagaimana menyusun anggaran di tengah penghasilan yang tidak pasti, serta mulai membangun tabungan sebagai penyangga saat menghadapi kebutuhan mendesak. 

Berbeda dengan pelatihan konvensional di ruang kelas, PERMATA dijalankan langsung di komunitas dan dipandu oleh Kader Permata—perempuan-perempuan lokal yang dipercaya dan berpengaruh di lingkungannya. Melalui diskusi kelompok, latihan langsung, dan pendampingan berkelanjutan, proses belajar menjadi lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari dan terasa lebih dekat. 

Selama tiga batch pelatihan, PERMATA menjangkau 1.698 perempuan di Subang dan Garut, banyak di antaranya masih berada pada tahap awal membangun kebiasaan keuangan. Perlahan, para peserta mulai mencatat pengeluaran harian, memisahkan uang rumah tangga dengan uang usaha atau pertanian, serta menetapkan target menabung yang kecil namun realistis. Pengelolaan keuangan pun tidak lagi terasa rumit atau menakutkan, melainkan menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. 

Temuan Utama Program PERMATA 

  1. Perubahan perilaku nyata melalui pendekatan praktis 

    Meski peningkatan pengetahuan keuangan secara teori tercatat sebesar 9%, pemantauan buku kerja menunjukkan hasil yang jauh lebih signifikan: 89% peserta mulai menyusun anggaran, dan 87% secara rutin mencatat pengeluaran. 

  2. Akses ke layanan keuangan sudah ada, tetapi belum dimanfaatkan optimal 

    Sebanyak 73% peserta memiliki rekening bank, namun hanya 36% yang menabung secara rutin di bank, dan baru 25% yang pernah melakukan transaksi digital. Banyak peserta merasa lebih nyaman menyimpan uang tunai karena jumlah tabungan yang kecil dan keterbatasan waktu untuk ke bank. Pembatasan transaksi digital juga dianggap sebagai cara mengontrol pengeluaran. 

  3. Kesadaran menabung mendorong perencanaan masa depan 

    Setelah mengikuti pelatihan, semakin banyak perempuan yang mulai menyisihkan uang untuk kegiatan produktif. Proporsi peserta yang menabung untuk meningkatkan pendapatan naik dari 17% menjadi 27,6%, menunjukkan tumbuhnya keberanian untuk merencanakan dan berinvestasi kembali. 

Kisah PERMATA memperlihatkan bahwa ketahanan ekonomi keluarga tidak selalu dimulai dari penghasilan yang lebih besar, melainkan dari kesadaran, kebiasaan kecil yang konsisten, dan dukungan lingkungan sekitar. Ketika perempuan diakui sebagai pengambil keputusan keuangan dan dibekali cara-cara yang sesuai dengan realitas hidup mereka, perubahan nyata dapat terjadi—bahkan di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu. Program seperti PERMATA menunjukkan bahwa literasi keuangan yang praktis dan berbasis komunitas dapat menjadi fondasi bagi keluarga yang lebih tangguh, ekonomi desa yang lebih kuat, dan pertumbuhan yang lebih inklusif. 

Baca laporan lengkapnya di sini: Laporan Visa Pemata 


Back To List