news
Saat Ketatnya M&E Berbenturan dengan Kesiapan di Lapangan: Uji Coba M&E Digital dalam Upaya Penurunan Stunting
12 Jan 2026Dalam sektor pembangunan, pemantauan dan evaluasi (M&E) yang ketat sering kali dianggap sebagai hal yang tidak bisa ditawar. Donor mengharapkan dampak yang terukur, pemerintah menuntut akuntabilitas, dan dengan lonjakan penggunaan perangkat digital—seperti chatbot, aplikasi, serta dashboard—janji akan adanya data secara real-time terasa semakin mudah digapai.
Namun, apa yang terjadi ketika sistem pemantauan digital melampaui kesiapan realita di lapangan?
Selama setahun terakhir, pengalaman kami dalam menguji coba chatbot SAKTI membantu kami membedah celah ini. SAKTI adalah chatbot AI berbasis WhatsApp yang digunakan dalam inisiatif ZeroStunting untuk memantau konsumsi telur dan mendorong perubahan perilaku. Alih-alih memberikan satu kesimpulan pasti, hasil uji coba menunjukkan bagaimana desain M&E digital terbaik sekalipun perlu diuji, diadaptasi, dan terkadang ditinjau kembali sebelum akhirnya disebarluaskan.
Harapan: Alat Digital yang Dapat Melakukan Segalanya
Awalnya, SAKTI dibangun untuk mengatasi hambatan operasional yang nyata. Petugas lapangan (Field Officer/FO) dan kader Posyandu menghabiskan banyak waktu untuk memantau konsumsi telur harian. Setiap hari, pendamping harus melapor melalui WhatsApp, kader harus memverifikasi foto dan mengirimkannya ke staf lapangan kami, yang kemudian harus menyusun data tersebut secara manual ke dalam sebuah spreadsheet. Proses ini memakan waktu dan tidak berkelanjutan.
SAKTI mengotomatiskan proses ini, menghemat lebih dari 500 jam kerja staf dalam uji coba enam bulan pertama kami. Namun, kami ingin melangkah lebih jauh. Jika sudah ada saluran digital yang menjangkau pengasuh, mengapa tidak menggunakannya untuk lebih banyak hal, seperti memantau proses belajar dan perubahan perilaku?
Maka, kami memperluas fungsi chatbot tersebut. Kami menguji coba pengiriman pesan edukasi mingguan: pesan singkat dengan tautan ke konten pengasuhan, serta kuis bulanan dengan pre-test dan post-test untuk menilai peningkatan pengetahuan dan membuktikan bahwa komponen edukasi digital kami berhasil. Secara teori, jika efektif, ini akan menjadi pendekatan M&E yang efisien dan mudah disebarluaskan (scalable). Uji coba ini bertujuan untuk menguji asumsi-asumsi tersebut.
Realita di Lapangan: Apa yang Terungkap dariHasil Uji Coba
Hasilnya bervariasi di berbagai lokasi. Di Kalipare, Malang, partisipasi kuis mencapai angka tinggi sebesar 82% dalam pengujian satu bulan, diiringi dengan peningkatan pelaporan konsumsi telur. Namun di Turen, kecamatan lain di Malang, saat kami mencoba uji coba selama 6 bulan, partisipasi menurun seiring waktu: pada bulan kedua, hanya 34% peserta yang menyelesaikan pre-test dan post-test, di mana penyelesaian kuis lebih umum ditemukan di kalangan pengasuh dengan tingkat pengetahuan dasar yang sudah tinggi. Secara rata-rata, penyelesaian laporan konsumsi telur harian mencapai sekitar 74%.
Survei tindak lanjut terhadap peserta yang tidak mengikuti kuismenunjukkan kendala yang lazim ditemui. Para pengasuh menyebutkan keterbatasan waktu, masalah konektivitas internet dan ketersediaan kuota, serta terlalu sering menerima pesan (message fatigue). Pola-pola ini konsisten dengan tantangan penggunaan digital pada umumnya di lingkungan dengan sumber daya terbatas, dan hal ini bukan sekadar masalah akses terhadap ponsel pintar, mengingat kepemilikan ponsel dan penggunaan media sosial sudah tersebar luas di wilayah tersebut.
Di saat yang sama, lokakarya tatap muka menghasilkan peningkatan pengetahuan yang jauh lebih substansial dibandingkan kuis digital. Meski demikian, saluran digital tetap menunjukkan tanda-tanda keterlibatan: di antara pengasuh yang tidak menyelesaikan kuis, banyak yang melaporkan bahwa mereka tetap membaca pesan dan mengeklik tautan yang dikirim, meskipun mereka tidak memberikan respons aktif.
Pembelajaran: Kegunaan Sebenarnya dari Alat Digital
Secara keseluruhan, uji coba ini menunjukkan bahwa SAKTI lebih berperan sebagai pengingat yang mudah dan ringan (low barrier reminder) digunakan, bukan sebagai instrumen pengukuran pengetahuan.. Hal ini tidak berarti bahwa pendekatan digital atau berbasis AI tidak efektif untuk edukasi gizi; melainkan keunggulan kompetitifnya terletak pada penguatan perilaku dan memungkinan tindakan yang tepat waktu. Selain itu, kuis singkat tersebut memicu rasa ingin tahu orang tua untuk mengeklik artikel dan menggunakan fungsi AI di dalam chatbot WhatsApp.
Hal ini tercermin dalam hasil operasional. Kehadiran di Posyandu meningkat dari 88% menjadi 97% di Kalipare, sebagian karena kader dapat menggunakan dashboard SAKTI untuk mengidentifikasi keluarga yang memerlukan tindak lanjut. Mengurangi beban operasional dan meningkatkan ketepatan sasaran bagi petugas lini terdepan dapat memberikan manfaat yang setara, bahkan dalam beberapa kasus lebih besar, daripada seberapa banyak data yang bisa dikumpulkan.
Temuan-temuan ini mendorong penyelarasan alat digital dengan tujuan yang lebih jelas:
-
Pengukuran pengetahuan lebih cocok dilakukan dalam kegiatan tatap muka di mana partisipasi dapat didorong dan kesalahpahaman dapat langsung diatasi.
-
Dorongan perubahan perilaku (behavioral nudging) dapat disampaikan secara efektif melalui saluran digital yang tidak memerlukan respons aktif yang sering.
-
Pengukuran dampak harus memprioritaskan perilaku yang teramati dan hasil kesehatan, bukan sekadar indikator kepatuhan penggunaan alat digital.
Kami juga beralih dari keharusan menggunakan alat digital sepenuhnya, dengan memungkinkan pencatatan berbasis kertas untuk melengkapi data pemantauan. Meskipun hal ini mengurangi keseragaman data, langkah ini meningkatkan keterwakilan (representativeness) data.
Implikasi Lebih Luas
Seiring dengan semakin maraknya penggunaan alat digital dalam program pembangunan, pertanyaan kuncinya bukan lagi "Bisakah kita membangun aplikasi ini atau itu?", melainkan: "Apakah alat ini mengurangi beban—atau justru diam-diam menciptakan beban baru? Dan apakah ia cukup fleksibel untuk bertahan di tengah kerumitan dunia nyata?".
Dari uji coba kami, terdapat tiga kesimpulan utama:
-
Sistem M&E digital harus tetap berfungsi meskipun ada kendala konektivitas, atensi, dan partisipasi.
-
Kemampuan untuk mengumpulkan data jangan dikelirukan dengan keharusan untuk mengumpulkannya.
-
Uji coba harus dirancang dengan mempertimbangkan adaptasi; keterlibatan (engagement) yang beragam atau menurun bukanlah kegagalan, melainkan sebuah informasi.
Masa depan M&E digital bukanlah tentang membangun satu sistem yang sempurna. Ini tentang membangun sistem adaptif yang menemui masyarakat di mana mereka berada—dalam literasi digital , keterbatasan bandwidth, dan realitas sehari-hari mereka. Dan hal itu memerlukan uji coba dengan kerendahan hati, mengukur apa yang penting, dan menerima bahwa terkadang data yang "tidak sempurna" justru memberikan gambaran dampak yang lebih jujur.
Artikel ini ditulis oleh Melinda Mastan


